Mengayuh Perahu di Birunya Laut Morotai

alam salah satu laporannya, National Geographic menyebut Pulau Morotai di Maluku Utara tidak ubahnya kisah sunyi di tepi Samudera Pasifik.

Orang Indonesia yang lahir tahun 1950 dan 1960-an relatif hanya sekali mendengar Morotai, yaitu ketika penduduk salah satu pulau itu menangkap Teruo Nakamura -- prajurit Jepang yang menolak menyerah kepada sekutu dan bertahan hidup selama 30 tahun di dalam hutan.

Kini, Morotai diprediksi akan menjadi destinasi wisata kelas dunia, setara dengan Dubai, Hong Kong, Abu Dhabi, dan Singapura, karena letaknya yang sangat strategis. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI menjadikannya satu dari 10 Top Destinasi Prioritas, yang akan menunjang target 20 juta wisatawan pada tahun 2019.

Morotai tak lagi sunyi. Setiap tahun 5.000 wisatawan berkunjung ke Morotai untuk berwisata sejarah, menikmati keindahan bawah laut di satu dari puluhan spot, atau berjemur di salah satu pantai berpasir putih selembut tepung.

Kisah tentang keindahan Morotai ditulis banyak traveller, bertebaran di banyak situs dalam dan luar negeri, serta media sosial. Foto-foto pantai di Morotai, peralatan tempur sekutu  yang bersemayam di bawah laut, dan museum, tidak lagi sulit ditemui. Setiap traveller berbagi cerita dan foto berwisata ke Morotai, yang memprovokasi orang dari sekujur Indonesia dan luar negeri untuk datang.

Morotai saat ini adalah kabupaten hasil pemekaran Halmahera Utara. Kabupaten Morotai -- dengan luas 1.800 kilometer persegi -- terdiri dari Pulau Morotai, Pulau Dodola, dan Pulau Kokoya. Pulau Morotai yang terbesar. Daruba, ibu kota Morotai, terletak di selatan pulau. Total populasi Morotai sekitar 53 ribu jiwa.

Letak Morotai sangat strategis, karena berada di jalur pelayaran antara Asia dan Australia. Morotai bisa dijangkau dari negara-negara yang menjadi pasar pariwisata Indonesia; China, Taiwan, Korea, Jepang, Hong Kong, Filipina, Selandia Baru, dan Australia. 

Sejarah Morotai membentang jauh ke belakang, ke masa Kesultanan Ternate. Sebelum Portugis datang, Morotai dikenal dengan nama Morotia atau tanah Suku Moro. 

Catatan perjalanan Portugis mengungkapkan pelaut dan misi Kristen mendarat di Morotia dan menemukan 47 perkampungan orang Moro, yang masing-masing dihuni antara 700 sampai 800 penduduk. Portugis memperkirakan jumlah orang Moro mencapai 20 ribu.

Perkampungan Moro juga terdapat di Tanjung Bisoa sampai Cawa, dekat kota Tobelo saat ini. Pulau Rau, yang lebih kecil, juga memiliki 29 permukiman Moro sampai tahun 1608.

Sejarawan Adnan Amal, dalam buku Kepulauan Rempah-rempah, mengungkapkan kisah Kerajaan Moro dengan kakuasaan mencakup Morotai. Profesor Adrian Lapian menyebutkan Kerajaan Moro sama tua dengan Kerajaan Loloda dan Jailolo, dengan pusatnya di Mamuya.

Konflik yang muncul setelah kedatangan Portugis, membuat orang Moro harus berperang dengan hampir semua tetangganya. Perang dan pemusnahan membuat populasi orang Moro menurun drastis. Pertengahan abad ke-17, orang Moro menghilang. Orang Halmahera yakin orang Moro bukan lenyap tapi tak terlihat.

Banyak kisah-kisah misterius yang dikaitkan dengan keberadaan orang Moro. Misal, adanya hantu tangan melayang dengan jari tengah dan telunjuk menjepit rokok. Atau, pengalaman penduduk yang menghilang berhari-hari, lalu muncul dengan cerita diculik orang Moro.Kisah-kisah itu masih bisa didengar sampai saat ini, tapi cerita-cerita baru relatif tidak ada.

Sejarah modern Pulau Morotai dimulai ketika Douglas McArthur, komandan tentara sekutu di Pasifik, mendarat dan menggunakan pulau itu sebagai basis serangan ke Filipina dan Kalimantan. Semua jejak kehadiran sang jenderal, tujuh landasan terbang di Teluk Pilu, plus patung diri sang jenderal di Pulau Zum Zum, kini menjadi destinasi menarik.

Yang lenyap adalah sebagian besar peralatan perang yang ditinggalkan, berupa pesawat, tank amfibi, kendaraan roda empat, dan lainnya, yang sebagian besar berada di dasar laut, akibat perburuan besi tua.

Penduduk Morotai, terutama yang berusia lanjut, masih bisa cerita tentang McArthur yang biasa mandi di kolam mata air, kini disebut Air Kaca, atau pembom yang lalu-lalang selama upaya merebut Filipina.

Kini, Pulau Morotai sedang memasuki masa depannya sebagai destinasi wisata kelas dunia. Kemenpar mendorong percepatan pembangunan dengan meluncurkan program Wonderful Morotai Island 2016, festival yang mengombinasikan semua kekayaan Morotai; wisata alam, bahari, budaya, buatan, dan sejarah.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yakin tidak lama lagi Morotai akah hidup, dan menyedot banyak wisatawan mancanegara. Tahun 2019, menurut Menpar Arief Yahya, Morotai diharapkan kebanjiran 500 ribu wisatawan.

Bupati Morotai Weni R. Paraisu mengatakan semua persiapan untuk menyambut ledakan wisatawan sedang dilakukan. Morotai kini sedang membangun jaringan listrik, hotel, sarana komunikasi, resrot, jaringan distribusi air bersih, dan lapangan golf.